TEKS CERITA SEJARAH
TUGAS TEKS CERITA SEJARAH
Assalamualaikum.wr.wb. pada kesempatan kali ini izinkan saya mengenalkan diri :
Nama : Riski Pauji
Kelas : 12 MIPA 09
No. Absen : 31
Tugas ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia pada Bab Teks Cerita Sejarah
RA KARTINI
Saya lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal
di Rembang,
Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat
disebut
Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional
Indonesia.
Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Ayah saya, R.M. Sosroningrat.
Saya berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Saya
merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang
diangkat
menjadi bupati Jepara segera setelah saya lahir. Saya adalah putri dari istri
pertama,
tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji
Siti Aminah
dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi
ayahnya, silsilah
saya dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati
Sosroningrat
bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran
Dangirin
menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi
banyak
posisi penting di Pangreh Praja.
Ayah saya pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong.
Peraturan kolonial waktu itu
mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A.
Ngasirah
bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng
Woerjan
(Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah
saya
diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A.
Woerjan,
R.A.A. Tjitrowikromo.
Saya adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara
sekandung, saya adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario
Tjondronegoro
IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19
sebagai
salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.
Kakak
saya, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia
12
tahun, saya diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini
antara lain
saya belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di
rumah
karena sudah bisa dipingit.
Karena saya bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan
menulis
surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya
adalah
Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah
Eropa,
saya tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk
memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada
pada
status sosial yang rendah.
Saya bersama suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat
(1903).
saya banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter
Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko
buku kepada
langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang
cukup
berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. saya pun kemudian
beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari
surat-
suratnya tampak saya membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat
beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga
masalah sosial umum. saya melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan,
otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku
yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta
karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht
(Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya
Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong
Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder
(Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Oleh orangtuanya, saya disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati
Ario
Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. saya menikah
pada
tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini
diberi
kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang
kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan
sebagai Gedung Pramuka.
Sekolah saya (Kartinischool), 1918.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada
tanggal 13
September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal
pada usia
25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya saya, kemudian didirikan Sekolah Wanita di
Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun,
Cirebon dan
daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini".
Yayasan ini didirikan
oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Setelah saya wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat
yang pernah dikirim oleh saya pada teman-teman di Eropa. Abendanon saat itu
menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku
itu
diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari
Kegelapan Menuju Cahaya".
Buku kumpulan surat saya ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak
lima kali,
dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat saya.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul
yang
diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang
merupakan
terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap
Terbitlah
Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku
menjadi
lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir saya sepanjang
waktu
korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat
saya dalam
Bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L.
Symmers. Selain itu, surat-surat
saya juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat saya, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian
masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran saya mulai mengubah pandangan
masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran saya
yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh
kebangkitan
nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul
Ibu Kita
Kartini.
Uang kertas pecahan IDR 5 cetakan tahun 1952 dengan gambar saya.
Pada surat-surat saya tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial
saat itu,
terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya
berisi keluhan
dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai
penghambat
kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.
saya menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan
Zelf-onderricht,
Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas
dasar
Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan
Keindahan),
ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta
tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari
luar. Pada
perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap
keinginan untuk
menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa
akibat
kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus
dipingit, dinikahkan
dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan saya dalam surat-suratnya
adalah
kritik terhadap agamanya.[butuh rujukan] Ia mempertanyakan mengapa kitab suci
harus
dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan
tentang
pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi
alasan
manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus
menjaga kita
daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama
agama
itu..."[butuh rujukan] saya mempertanyakan tentang agama yang dijadikan
pembenaran
Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.[butuh rujukan]
Surat-surat saya banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika
bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang
tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai
umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. saya sangat mencintai sang ayah,
namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi
kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu
mengasihi saya. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di
Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda
ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan saya untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap
dalam
surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan
keinginan saya tersebut. Ketika akhirnya saya membatalkan keinginan yang hampir
terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya.
Niat dan
rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja
setelah dinasihati
oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi saya dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk
melanjutkan studi
menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon,
saya
mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat
dan pendek saja,
bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah
akan
kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah
membuka pintu
kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat
Jawa. Ia
menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan
tersendiri
dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra
kala itu.
Dalam surat-suratnya, saya menyebutkan
bahwa sang suami tidak hanya mendukung
keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan
bumiputra
saja, tetapi juga disebutkan agar saya dapat menulis sebuah buku.
Teks nya sangat bagus dan juga menarik dibaca karena jalan ceritanya seru. Dan juga banyak pelajaran yang dapat kita ambil. πππ
BalasHapusKeren!!
BalasHapusCerita nya sangat menarik serta mudah dipahami
BalasHapusKaren banget
BalasHapusceritanya mantap
BalasHapusHebattt!!!
BalasHapusKerennn
BalasHapusBagus banget
BalasHapusMantap bang, cerita nya sangat menarikπ
BalasHapusMantappp keren dude
BalasHapusBagus sekali π
BalasHapusCerita yang diangkat menarik dengan pembawaan cerita yang baik.
BalasHapusbagus sekali
BalasHapusMantap pau, ceritanya sangat menginspirasi π
BalasHapusCerita yang disampaikan menarik dan sesuai kaidah kebahasaan π
BalasHapusmainnya hebatππ»
BalasHapusstruktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca
BalasHapusKeren, pemilihan cerita, alur, dan tokohnya sangat menarik
BalasHapusTeks sejarah nya sangat bagus dan tepat sesuai aturan, cerita yang disajikan sangat menarik, good job!!
BalasHapusTeks sejarahnya bagus dan Informasi pada ceritanya sangat detail. Pengembangan karakter dari kartini pun menarik
BalasHapusCeritanya sangat menarik dan struktur teksnya sudah baik
BalasHapus